Mempertanyakan Posisi Ketua PGI dalam Wantimpres
Berkat Vs Bungkam
Oleh: Pdt. Johan Andres Serhalawan
Golan Berguncang Bukan karena Gempa
Saat ini, pro kontra sementara merajalela di dataran Golan, hahaha, maksud saya, di jagat per-gereja-an Indonesia. Penyebabnya ketua PGI masuk menjadi anggota Wantimpres. Tapi gestur politik beliau cukup lihai, yakni saat pelantikan beliau tidak ikut hadir. Entah itu bentuk puasa politik, atau sekadar menghindari flash kamera. Yang jelas, saya takutnya beliau pasti tersandra dan harus ikut permainan pusat (hanya dugaan saja lho).
Mengingat dahulu, ketika Pemerintahan Pak Prabowo menawarkan konsesi tambang kepada ormas keagamaan, PGI dengan tegas menolak. Alasannya jelas dan mulia: “Kami tidak mau kehilangan sandaran moral.” Sederhananya: kalau gereja ikut menambang, siapa yang mau menambang air mata jemaat yang jadi korban tambang? Begitu pun dengan PSN di Papua dan pelanggaran HAM. PGI berdiri di barisan terdepan, menolak, melawan, dan menuntut pengusutan tuntas.
Mereka yang berseberangan pun lantas menuduh PGI “payah dan parah” tidak mau mengambil peluang ekonomi dari tambang. Kini, ketika seorang Ketua PGI dipilih menjadi Anggota Wantimpres, tiba-tiba banyak yang kebakaran jenggot. Panji PGI konon dibubuhi bendera partai tertentu. Pertanyaannya apakah ini suara kekritisan, atau suara sakit hati “mengapa bukan diriku yang dipilih?” Atau bisa jadi bahwa ini merupakan pola dan cara yang cukup jitu untuk membidik siapa pun yang mau berseberangan dengan Istana? Plot twist yang menarik, bukan?
Sebelum melanjutkan, mari saya nyatakan dengan tegas: saya berdiri pada posisi netral. Netral seperti wasit yang tidak punya kepentingan. Sejarah mencatat bahwa Johannes Leimena, salah satu pendiri DGI (kini PGI), pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri di era Soekarno. Sularso Sopater, Ketua Umum PGI 1987–2001, adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung. TB Simatupang, tokoh militer dan ekumenis, juga pernah menjadi Ketua PGI.
Jadi, jika hari ini ada Ketua PGI di Wantimpres, itu bukan sebuah anomali sejarah. Itu adalah tradisi yang berulang, hanya saja kali ini konteks politiknya berbeda. Seperti kata filsuf Yunani Herakleitos: “Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.” Atau dalam bahasa gereja: “Tidak ada yang baru di bawah kolong langit.”
Bagi mereka yang kritik, tidak perlu kita berdebat apalagi harus gondok-gondokan. Mari kita simak dulu argumen masing-masing. Standpoint dalam melihat keikutsertaan seorang Ketua PGI dalam anggota Wantimpres adalah sebuah penyangkalan terhadap tanggung jawab PGI yang harus berdiri tegak lurus dan membela kebenaran. Ada pula yang berpendapat bahwa memang beliau punya cita-cita politik, akhirnya tercapai dengan menjadi anggota Wantimpres. Congratulations? Banyak pandangan dari kalangan Kristen yang masuk dalam mazhab ini.
Di pihak lain, ada pula yang sangat setuju. Sebab dengan masuknya Ketua PGI, kalau beliau ada di Wantimpres, maka informasi terkait perundungan umat Kristen, pelanggaran HAM di tanah Papua, dan PSN mungkin bisa langsung masuk ke Presiden. Beliau bisa jadi saluran untuk menyuarakan suara kenabian lewat keberadaan dan penyampaian informasi kepada Pak Presiden. Direct line to the boss, no customer service needed.
Foucault, Gramsci, dan Peringatan tentang Kekuasaan
Izinkan saya mengutip sedikit pemikiran kritis sebagai tanda pengingat bukan hanya untuk Pdt. Jacky, tetapi untuk kita semua. Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya menindas ia juga memproduksi subjek. Dalam karyanya tentang pastoral power, Foucault menunjukkan bagaimana kekuasaan gereja secara historis beroperasi sebagai bentuk “penggembalaan” yang membentuk individu sekaligus mengendalikan mereka. Ia juga menegaskan bahwa kritik adalah “gerakan di mana subjek memberikan dirinya hak untuk mempertanyakan kebenaran dan efek-efek kekuasaan.” Artinya, ketika seseorang masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, pertanyaannya bukan lagi “apakah ia masih kritis?” tetapi “apakah ruang kritisnya masih tersedia?”
Foucault juga membedakan antara dominasi dan kekuasaan, antara teknik dominasi dan teknik diri, serta menyelidiki interaksi di antara keduanya. Seorang pemimpin gereja yang duduk di kursi penasihat presiden menghadapi dilema klasik: apakah ia tetap menjadi suara kenabian yang mengkritik dari luar, atau berubah menjadi bagian dari aparatus yang melegitimasi kekuasaan dari dalam? Seperti pisau yang dipakai untuk memotong roti bisa juga untuk memotong tangan sendiri.
Antonio Gramsci melengkapi dengan konsep intelektual organik: mereka yang “menciptakan ide-ide yang merasionalisasi dan membenarkan kepentingan kelompok sosialnya sendiri dan klaimnya atas dominasi.” Gramsci tidak menghakimi; ia hanya mengingatkan bahwa posisi menentukan perspektif. Dalam analisisnya tentang Gereja Katolik, Gramsci menunjukkan bagaimana institusi agama dapat mengembangkan “potensi hegemoni” melalui strategi yang menembus negara dengan izin negara itu sendiri. Pertanyaannya: apakah PGI sedang menembus negara, atau sedang ditembus oleh negara? Pertanyaan retoris yang membuat kita ingin menjawab “tergantung siapa yang bayar listrik.”
Dan tentu saja, Lord Acton dengan aforismenya yang abadi: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan absolut merusak secara absolut. Tidak ada manusia yang kebal termasuk pendeta. Acton menegaskan keyakinannya akan “kebutuhan akan batasan pada otoritas dan permanensi standar moral dalam kehidupan publik.” Even power needs a seatbelt.
Kesimpulan: Berkat atau Bungkam?
Semoga perbedaan pandangan ini tidak membawa umat Kristen pada penghujatan dan perpecahan. So, berbeda pandangan dan prinsip sangat wajar, tetapi rasa hormat tidak boleh pudar. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah “apakah Pdt. Jacky akan tetap kritis?” melainkan “apakah kita sendiri akan tetap kritis ketika tidak ada kursi yang tersedia untuk kita?” Karena kekuasaan, seperti kopi instan, bisa dinikmati siapa saja tetapi hanya mereka yang waspada yang tahu kapan harus berhenti menyesap dan mulai bertanya: “Ini kopi siapa yang sedang saya minum?” Tuhan Memberkati.




