Rabu, 4 November 2026 19:02 WIT
Iklan

Beranda › Berita InTim

Berita InTim

“Mengubah Sampah Menjadi Emas”: Pelatihan Olahan Buah Jambu Mete di Merauke

SOA, cahayatimurnews.com — Yayasan Dahetok Milah Lestari (YDML) bersama Kelompok Jambujob mengembangkan pengolahan buah jambu mete menjadi berbagai produk pangan melalui pelatihan di Kampung Soa, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 29–30 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi buah mete yang selama ini banyak dibuang atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Pelatihan tersebut menghadirkan Delli Gunarsa sebagai pelatih. Selama dua hari, anggota kelompok mempelajari pengolahan buah jambu mete menjadi selai, sirup, permen jeli, manisan, sambal, serundeng, koktail, hingga abon.

Salah seorang warga, Mama Antoneta Tomotkon, mengatakan hasil panen jambu mete di Kampung Soa pada 2026 melimpah. Namun, pemanfaatan buahnya masih terbatas sehingga belum memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Menurut Antoneta, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah komoditas pertanian lain yang menghadapi ancaman gagal panen akibat kondisi kering yang dikaitkannya dengan El Niño. Buah jambu mete yang tersedia melimpah biasanya hanya dibuang atau diberikan sebagai makanan babi dan kasuari.

Melalui pelatihan ini, peserta menghasilkan selai buah mete–nanas serta sirup buah mete dengan variasi orange, anggur, original, dan jeruk. Peserta juga membuat permen jeli mete, manisan mete, sambal mete, serundeng mete, koktail buah mete, dan abon mete.

Delli mengatakan pengolahan tersebut membuka peluang untuk mengubah buah yang sebelumnya dianggap sebagai sampah menjadi produk bernilai jual.

“Kita mengubah sampah menjadi emas,” ujar Delli saat menjelaskan potensi pengembangan produk buah jambu mete.

Ia mengaku bersyukur dapat mendampingi mama-mama Papua dalam Kelompok Jambujob. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh selama pelatihan perlu dilanjutkan melalui kegiatan produksi agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.

Delli mendorong kelompok untuk kembali membuat produk-produk yang telah dipelajari dan mengembangkannya untuk dijual. Dengan demikian, buah mete yang sebelumnya terbuang dapat menjadi sumber tambahan pendapatan.

Ia juga berharap pemerintah kabupaten maupun Pemerintah Provinsi Papua Selatan, khususnya perangkat daerah yang membidangi koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memberikan perhatian terhadap peluang pengembangan usaha berbahan baku lokal tersebut.

Direktur YDML, Pdt. Andre Serhalawan, kepada cahayatimurnews.com mengatakan pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pendampingan pengolahan jambu mete yang telah dilakukan YDML pada 2024. Pelatihan sebelumnya lebih berfokus pada pengembangan kacang mete, sedangkan kegiatan kali ini diarahkan pada pemanfaatan buahnya.

Pdt. Andre menegaskan YDML akan terus mendorong peningkatan ekonomi Orang Asli Papua (OAP) melalui pengembangan komoditas unggulan yang tersedia di sekitar masyarakat.

“Kami mencoba mengubah sampah menjadi emas,” kata Andre.

Ia menjelaskan, ungkapan tersebut menggambarkan upaya mengolah bahan yang selama ini dibuang dan belum dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Melalui pendampingan Kelompok Jambujob, YDML berharap pemanfaatan buah jambu mete dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kampung Soa.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan