Minggu, 20 September 2026 20:47 WIT
Iklan

BerandaBerita InTim

Berita InTim

MISKIN DALAM JARAK, KAYA DALAM PERJUMPAAN

(Sebuah Refleksi Kritis untuk TAKSA 2026)
Oleh : Pdt. Andre Serhalawan

Paradoks Sebuah Judul

Judul yang dipilih untuk Temu Akrab Rekan Sekerja Allah (TAKSA) 2026 di Bali “Miskin Dalam Jarak, Kaya Dalam Perjumpaan” adalah sebuah paradoks yang menggugah. Ia adalah cermin yang memantulkan realitas pelayanan Gereja Protestan Indonesia di Papua: sebuah gereja yang secara geografis terbentang luas, namun secara perjumpaan justru “miskin” karena jarak yang memisahkan. Judul ini adalah pengakuan jujur bahwa kami, para pelayan di Tanah Papua, hidup dalam ketegangan abadi antara keterbatasan dan kelimpahan. Keterbatasan untuk bertemu. Kelimpahan untuk mengasihi.

Luas wilayah Papua yang mencapai 418.707 kilometer persegi kini terbagi dalam enam provinsi bukan sekadar angka statistik. Ia adalah realitas yang harus kami gendong setiap hari. Dari Sorong hingga Merauke, dari pesisir hingga pegunungan tengah, para pendeta GPI Papua tersebar di 23 Klasis, masing-masing bergulat dengan medan, cuaca, dan keterisolasian yang tak jarang memaksa kami untuk berjalan kaki dan naik perahu demi mengunjungi satu jemaat.

Dalam konteks inilah, perjumpaan menjadi barang mewah. Dan ketika perjumpaan itu akhirnya terjadi dalam bentuk TAKSA, Rapat Sinode dan Klasis, atau sekadar pertemuan antar rekan sepelayanan ia menjadi momen sakral yang tidak boleh disia-siakan. Sebab di tanah ini, bertemu adalah anugerah.

Namun, justru di tengah “kemiskinan dalam jarak” itulah, Tuhan menempa kami untuk menjadi “kaya dalam perjumpaan.” Kaya dalam solidaritas. Kaya dalam doa yang saling menguatkan meski dari kejauhan. Kaya dalam kesetiaan untuk tetap melayani meski tanpa sorotan kamera, tanpa aplaus, tanpa pengakuan.

Sejarah yang Berbicara: Dari Kampung ke Kampung

Sejak tahun 2000, para pendahulu kami telah meletakkan fondasi yang kokoh: bahwa TAKSA bukan sekadar acara seremonial empa tahunan, melainkan ruang perjumpaan yang sengaja dibuat antara para pelayan yang tersebar di medan yang sulit. Dan pilihan tempat pelaksanaannya tidak pernah sembarangan.

TAKSA pertama di Nakias, Merauke. Kemudian Urisa-Arguni (2008), Bintuni (2012), dan Waan, Distrik Muting, Kabupaten Merauke di tahun 2017. Semuanya kampung. Semuanya jauh dari pusat keramaian. Semuanya sulit dijangkau.

Mengapa kampung? Jawabannya sederhana namun menusuk: karena di kampung-kampung itulah umat GPI Papua hidup. Di sanalah nadi pelayanan kami berdetak. Ketika ratusan pendeta turun ke kampung-kampung, tinggal di bevak-bevak sederhana, makan apa adanya, dan berdoa bersama umat, kami sedang menghidupkan kembali roh para penginjil pertama yang membawa Kabar Baik ke Tanah Papua dengan kaki telanjang dan perut yang sering lapar. Kami sedang mengingatkan diri sendiri: bahwa panggilan ini bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang kehadiran. Namun, sejarah juga harus berbicara tentang perkembangan. Dan di sinilah pertanyaan-pertanyaan kritis itu muncul.

Pertanyaan yang Harus Dijawab

“Kenapa harus Bali? Apakah di Bali ada jemaat GPI Papua? Apakah ada jejak pelayanan GPI Papua di sana? Mengapa harus menggelontorkan 10-15 juta per orang? Mengapa tidak di Sorong, Kaimana, Manokwari, Timika, atau Asmat saja?”

Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi beranda Facebook dan grup-grup WhatsApp. Mereka datang dari umat yang mengasihi gerejanya. Dari jemaat yang mungkin harus menabung bertahun-tahun untuk bisa menyekolahkan anaknya, sementara mendengar bahwa para pendetanya “pergi ke Bali.”

Dan pertanyaan-pertanyaan ini tidak salah. Justru sebaliknya mereka adalah tanda bahwa umat masih peduli. Mereka adalah bentuk kasih yang diungkapkan lewat kepedulian terhadap integritas pelayanan. Gereja yang sehat adalah gereja yang warganya berani bertanya, dan pemimpinnya berani menjawab dengan jujur.

Maka, dengan segala kerendahan hati, izinkan saya sebagai bagian dari keluarga besar GPI Papua menyampaikan beberapa jawaban, bukan sebagai pembelaan diri yang defensif, melainkan sebagai undangan untuk bersama-sama melihat gambaran yang lebih besar.

Alasan Positif TAKSA di Bali

Belajar dari Gereja yang Berbeda Konteks

Gereja di Bali hidup sebagai minoritas di tengah mayoritas yang berbeda keyakinan. Mereka telah teruji dalam membangun relasi lintas iman, mengelola kehadiran yang rendah hati, dan menjadi saksi Kristus tanpa menjadi ancaman. Ini adalah pelajaran berharga bagi GPI Papua yang juga hidup dalam kemajemukan. Kami perlu belajar bagaimana menjadi gereja yang inklusif tanpa kehilangan identitas, bagaimana membangun jembatan tanpa mengorbankan kebenaran.

Model Pengelolaan Ekonomi Jemaat yang Mandiri

Gereja-gereja di Bali telah mengembangkan model pengelolaan ekonomi jemaat yang patut dipelajari. Dari pengelolaan lahan produktif, unit-unit usaha gerejawi, hingga kemitraan dengan sektor pariwisata. GPI Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi seringkali belum memiliki kapasitas manajerial untuk mengelolanya secara optimal. Belajar dari Bali adalah investasi kapasitas untuk kemandirian ekonomi jemaat di Papua.

Pengelolaan Pariwisata Berbasis Komunitas Gereja

Bali adalah laboratorium hidup untuk pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. GPI Papua memiliki potensi wisata alam dan budaya yang luar biasa dari Raja Ampat hingga Lembah Baliem yang belum tergarap secara maksimal. Jika gereja-gereja di Bali mampu mengelola sektor ini dengan integritas, mengapa kami tidak belajar dari mereka untuk membangun model serupa di Papua, di mana keuntungan ekonomi kembali kepada jemaat dan masyarakat lokal?

Penyegaran Mental dan Spiritual

Pelayanan di Tanah Papua, dengan segala medannya yang berat, dapat menguras tenaga, pikiran, dan spiritualitas. Banyak pendeta yang melayani bertahun-tahun tanpa pernah merasakan jeda yang memadai. TAKSA di Bali dengan suasana yang berbeda, udara yang lebih tenang, dan ritme yang lebih santai adalah bentuk self-care yang bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Pendeta yang segar mentalnya akan melayani dengan lebih baik. Ini bukan tentang menghindari pelayanan; ini tentang memulihkan diri untuk pelayanan yang lebih panjang.

Family Gathering yang Memperkuat Ikatan Kekeluargaan

TAKSA bukan hanya pertemuan kerja. Ia adalah reuni keluarga besar GPI Papua. Di sini, para pendeta yang bertahun-tahun tidak saling bertemu karena jarak Sorong-Merauke sama jauhnya dengan London-Roma akhirnya bisa berjabat tangan, saling menatap mata, dan berbagi cerita tanpa perantara teknologi. Hubungan yang hangat di antara para pelayan akan berdampak langsung pada kesehatan hubungan antar jemaat dan Klasis.

Membangun Jaringan Antar Gereja yang Lebih Luas

Ketika GPI Papua mengadakan TAKSA di Bali, kami tidak hanya bertemu dengan sesama pendeta Papua. Kami juga akan berinteraksi dengan gereja-gereja lokal di Bali, para pemimpin sinode setempat, dan mungkin juga dengan komunitas-komunitas Papua yang merantau di sana. Jaringan ini membuka peluang untuk kolaborasi pelayanan, pertukaran sumber daya, dan dukungan doa lintas wilayah.

Menghargai Perbedaan sebagai Kekayaan

Bali mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. Hidup sebagai minoritas membuat gereja-gereja di sana matang dalam hal toleransi dan dialog. Pelajaran ini relevan bagi GPI Papua yang hidup di tengah keberagaman suku, bahasa, dan budaya yang luar biasa. Jika kami bisa belajar menghargai perbedaan di tingkat nasional, kami akan lebih mampu menghargai perbedaan di tingkat lokal.

Momentum Refleksi Strategis Jangka Panjang

Menjauh dari rutinitas sehari-hari memberi ruang untuk berpikir lebih jernih tentang arah pelayanan. Di Bali, jauh dari hiruk-pikuk jemaat dan tuntutan administrasi, para pendeta bisa duduk bersama untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar: Ke mana arah GPI Papua 25 tahun ke depan? Bagaimana kami merespons perubahan zaman? Bagaimana kami mempersiapkan generasi muda untuk mengambil tongkat estafet?

Investasi, Bukan Pengeluaran

Ketika umat melihat angka 10-15 juta per orang, mereka melihat “biaya.” Tetapi kami ingin mengajak umat untuk melihatnya sebagai “investasi.” Investasi pada kapasitas para pelayan. Investasi pada kesehatan mental dan spiritual mereka. Investasi pada jaringan antargereja. Investasi pada pembelajaran yang akan dibawa pulang dan diterapkan di Tanah Papua. Sama seperti kita menginvestasikan dana untuk pendidikan anak yang hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi berdampak seumur hidup demikian pula TAKSA di Bali adalah investasi untuk masa depan pelayanan GPI Papua.

Jawaban untuk Umat: Hormat dan Terima Kasih

Kepada umat GPI Papua yang telah bertanya, mengkritik, dan menunjukkan kepedulian lewat pertanyaan-pertanyaan mereka di media sosial, kami para pelayan Tuhan ingin menyampaikan sesuatu dari lubuk hati yang paling dalam: Terima kasih.

Terima kasih karena kalian masih peduli. Terima kasih karena kalian masih berharap gereja ini menjadi lebih baik. Terima kasih karena kalian tidak diam ketika melihat sesuatu yang tidak kalian pahami. Itu adalah tanda bahwa gereja ini hidup dan kalian bukan sekadar penonton, melainkan pemilik bersama dari tubuh Kristus yang bernama GPI Papua.

Kami mendengar pertanyaan kalian. Kami mendengar kekhawatiran kalian. Dan kami tidak tersinggung. Justru sebaliknya kami merasa diteguhkan, karena kritik yang lahir dari kasih adalah pupuk bagi pertumbuhan.

Kami ingin menegaskan: ketika kami pergi ke Bali, kami pergi dengan kesadaran penuh bahwa kami adalah hamba-hamba tak berguna yang diutus. Kami pergi untuk belajar, bukan untuk berlibur. Kami pergi untuk memperlengkapi diri, bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Dan ketika kami kembali, kami akan kembali membawa bekal yang lebih kaya untuk melayani kalian dengan lebih baik.

Kami juga menyadari bahwa kepergian kami meninggalkan jemaat untuk sementara waktu. Itu adalah pengorbanan yang kami rasakan berat, karena hati kami selalu bersama kalian di kampung-kampung, di lereng-lereng gunung, di pesisir-pesisir pantai, serta di mana pun kalian berada. Tetapi percayalah, bahwa kepergian yang singkat ini dimaksudkan agar kehadiran kami berikutnya menjadi lebih bermakna.

Kritik kalian adalah doa yang belum selesai diucapkan. Pertanyaan kalian adalah rindu untuk melihat gereja ini berjalan di jalur yang benar. Dan kami berkomitmen untuk menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan, dengan integritas, dan dengan pelayanan yang semakin bertanggung jawab.

Penutup: Miskin dalam Jarak, Kaya dalam Perjumpaan

Pada akhirnya, tema TAKSA 2026 bukan sekadar slogan. Ia adalah doa. Ia adalah pengakuan. Ia adalah komitmen. Kami mengakui bahwa kami miskin dalam jarak. Jarak yang membentang di Tanah Papua telah merampas banyak kesempatan untuk bertatap muka, untuk berjabat tangan, untuk duduk bersama dan saling mendengarkan. Tetapi justru dalam kemiskinan itulah kami menemukan kekayaan yang sejati: perjumpaan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Perjumpaan dengan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kami, bahkan ketika kami merasa sendirian di tengah hutan Papua, jauh dari peradaban. Perjumpaan dengan sesama pelayan yang saling mendoakan dari kejauhan, yang mengirim pesan singkat di tengah malam untuk sekadar bertanya, “Saudara, apa kabar pelayananmu?”

Perjumpaan dengan umat yang setia, yang meskipun mungkin bertanya-tanya tentang keputusan-keputusan yang diambil, tetap membuka pintu rumah mereka ketika pendetanya datang berkunjung. Kekayaan inilah yang akan kami bawa ke Bali. Dan dari Bali, kami akan membawa pulang kekayaan yang baru: pembelajaran, pengalaman, jaringan, dan semangat yang diperbarui. Bukan untuk bermegah diri, tetapi untuk melayani dengan lebih setia. Karena pada akhirnya, gereja bukanlah tentang gedung, program, atau acara. Gereja adalah tentang perjumpaan. Dan selama kami tetap kaya dalam perjumpaan dengan Tuhan dan dengan sesama, maka kemiskinan dalam jarak hanyalah sementara.

Perjumpaan akan datang. Dan ketika itu tiba, ia akan menjadi pesta yang melimpah, di mana setiap air mata dihapus, setiap lelah dipulihkan, dan setiap pelayan mendengar suara Tuhannya berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia. Engkau telah setia dalam perkara kecil, maka engkau akan Kuberi tanggung jawab atas perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21). JAS

Sorong, 5 September 2026

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan