Minggu, 20 September 2026 20:48 WIT
Iklan

BerandaUncategorized

Uncategorized

“Cepat Mendengar, Lambat Berkata” — Refleksi Seorang Pelayan di Ujung Tugas

Refleksi ini sesungguhnya lahir bukan dari pengamatan atas kekurangan orang lain, melainkan dari perenungan atas pengalaman diri sendiri—terutama mengingat betapa banyak keterbatasan yang saya miliki dalam pelayanan. Ini adalah kesadaran murni bahwa pada berbagai kesempatan, termasuk ketika saya pernah diberi ruang untuk memimpin dan mengambil keputusan, saya tidak selalu cukup peka membaca situasi yang dihadapi oleh mereka yang saya layani.

Jujur, pernah ada masa ketika saya merasa cukup memahami persoalan karena dibekali teori, pengalaman pendidikan, dan dukungan rekan-rekan yang lebih cerdas serta berpengaruh. Saya pernah begitu yakin bahwa apa yang ada dalam pikiran saya adalah jawaban terbaik bagi situasi yang sedang dihadapi. Namun kini, saat meninjau kembali perjalanan pelayanan itu, saya menyadari bahwa keyakinan yang terlalu besar terhadap pengetahuan sendiri kerap membuat saya kurang memberi ruang untuk mendengar kenyataan yang terbentang di depan mata.

Salah satu pengalaman yang tak pernah saya lupakan terjadi ketika saya melayani di pedalaman Pegunungan Tengah Papua pada pertengahan tahun 1990-an. Sebagai lulusan teologi yang masih muda, saya datang dengan semangat membara dan keyakinan bahwa metode yang saya gunakan adalah metode yang tepat. Pada suatu kesempatan, saya mengajar tentang ketaatan kepada Tuhan dengan menggunakan Overhead Projector (OHP)—sebuah teknologi presentasi yang pada masa itu dianggap modern dan bergengsi.

Sepanjang pemaparan, seluruh peserta tampak diam. Tak ada yang bertanya. Saya mengira mereka menyimak dengan serius dan memahami apa yang saya sampaikan. Bahkan, dalam hati saya sempat merasa puas, menganggap materi yang saya bawakan diterima dengan baik.

Namun menjelang kegiatan berakhir, beberapa bapak mendatangi saya. Dengan penuh harap, saya bertanya apakah ada bagian materi yang ingin didiskusikan lebih lanjut. Salah seorang di antara mereka menjawab dengan polos, “Bapak punya alat ini bagus sekali. Lampunya terang. Tadi kami bicara bahwa lampu seperti itu bagus untuk berburu pada malam hari.”

Jawaban itu menampar kesadaran saya. Ternyata, yang menarik perhatian mereka bukanlah isi pengajaran, melainkan lampu dari OHP yang saya gunakan. Mereka mengagumi alatnya, tetapi belum tentu memahami pesan yang ingin saya sampaikan.

Sejak saat itu, saya mulai belajar bahwa komunikasi yang baik tidak dimulai dari apa yang ingin kita katakan, melainkan dari kemampuan memahami dunia orang yang diajak bicara. Saya belajar bahwa kehadiran teknologi, teori, metode, bahkan jabatan, tidak otomatis membuat seseorang memahami kebutuhan nyata dari mereka yang dilayani.

Pengalaman sederhana itu terus mengingatkan bahwa salah satu godaan terbesar dalam pelayanan adalah merasa sudah memahami keadaan, padahal sesungguhnya kita belum sungguh-sungguh mendengarkan. Karena itu, ketika saya berbicara tentang kurangnya kepekaan terhadap situasi pelayanan, saya tidak sedang menunjuk kepada orang lain. Saya sedang berbicara tentang kemungkinan yang pernah—dan mungkin masih—ada dalam diri saya sendiri, menjelang purna bakti.

Pengalaman kurang peka terhadap situasi sosial ini, dalam ilmu psikologi kognitif dan studi kepemimpinan, kerap dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai Situational Awareness (Kesadaran Situasional)—sebuah konsep yang dipopulerkan oleh Mica Endsley. Menurutnya, kesadaran situasional terdiri dari tiga tahap: kemampuan melihat apa yang sedang terjadi, memahami maknanya, dan memperkirakan dampaknya di masa depan.

Ketika salah satu tahap ini melemah, seseorang dapat terjebak dalam aktivitas, prosedur, atau slogan yang tampaknya benar, tetapi gagal menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi komunitasnya.

Dalam kehidupan gereja, fenomena ini kadang muncul dalam bentuk yang halus. Pelayanan tetap berjalan. Program terlaksana. Rapat diadakan. Laporan disusun. Jargon-jargon besar tentang visi, misi, pertumbuhan, dan pengembangan organisasi terus bergema. Namun pada saat yang sama, suara-suara kegelisahan jemaat di akar rumput perlahan tak terdengar. Di sinilah lahir apa yang sering disebut sebagai “menara gading”—ketika pelayan gereja lebih banyak melihat realitas dari ruang diskusi daripada dari pergumulan nyata umat yang dilayani.

Sosiolog terkenal Peter Berger pernah mengingatkan bahwa institusi yang terlalu lama hidup dalam dunianya sendiri berisiko kehilangan kemampuan membaca kenyataan sosial yang terus berubah. Ia tidak berhenti bekerja, tetapi kehilangan sentuhan dengan realitas.

Bahayanya bukan terletak pada niat buruk. Justru sering terjadi karena orang-orang yang melayani begitu sibuk dengan berbagai tanggung jawab sehingga tak lagi memiliki ruang untuk mendengar.

Berkaitan dengan kenyataan ini, pemikir manajemen modern Peter Drucker pernah menulis bahwa tidak ada yang lebih sia-sia daripada melakukan dengan sangat efisien sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Kalimat ini terasa begitu relevan bagi dunia pelayanan. Sebab kadang-kadang energi terbesar dicurahkan untuk mempertahankan sistem, sementara persoalan mendasar yang mengganggu kehidupan umat justru tidak tersentuh.

Mungkin jemaat sedang bergumul dengan kemiskinan, konflik keluarga, hilangnya generasi muda dari gereja, krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan, atau luka akibat relasi yang retak. Namun perhatian organisasi lebih tersedot pada hal-hal yang secara administratif penting, tetapi secara pastoral kurang mendesak. Pada titik ini, gereja bukan kehilangan aktivitas, melainkan kehilangan sensitivitas.

Bagi saya, jalan terbaik menyikapi situasi ini adalah merefleksikan diri sendiri. Dalam arti ini, refleksi yang kita lakukan tidak pertama-tama ditujukan kepada “mereka.” Justru kitalah yang bertanya kepada diri sendiri: Mungkinkah saya juga pernah berada dalam kondisi itu? Pernahkah saya terlalu yakin bahwa saya memahami keadaan, padahal saya tidak sungguh-sungguh mendengarkan? Pernahkah saya lebih sibuk mempertahankan cara pandang saya daripada memahami kegelisahan orang lain? Pernahkah saya merasa telah melayani banyak orang, tetapi lupa hadir secara nyata bagi mereka yang sedang terluka?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kurangnya kesadaran situasional bukan hanya persoalan kepemimpinan orang lain. Ia adalah godaan yang dapat dialami siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Langkah selanjutnya adalah jalan pertobatan bersama. Dalam tradisi Kristen, pertobatan bukan hanya meninggalkan dosa pribadi, tetapi juga pembaruan cara melihat kenyataan. Pertobatan bersama dimulai ketika para pelayan, pemimpin, dan jemaat berani mengakui bahwa tidak seorang pun memiliki pemahaman yang sempurna mengenai situasi yang sedang dihadapi gereja. Pertobatan itu tampak dalam kesediaan untuk: lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak hadir daripada sekadar mengatur, lebih banyak memahami daripada mempertahankan posisi, lebih mengutamakan kebutuhan bersama daripada kepentingan kelompok, serta lebih mengedepankan penyembuhan daripada pembenaran diri.

Gereja yang sehat bukanlah gereja yang tidak memiliki masalah. Gereja yang sehat adalah gereja yang cukup rendah hati untuk melihat masalahnya, cukup berani untuk mengakuinya, dan cukup dewasa untuk mencari jalan keluarnya bersama.

Pada akhirnya, harus diakui secara jujur: tantangan terbesar gereja masa kini bukanlah kurangnya program, kurangnya struktur, atau kurangnya slogan. Tantangan terbesar justru mungkin adalah kurangnya kepekaan untuk mengenali apa yang sungguh-sungguh terjadi di tengah umat. Ketika pelayanan kehilangan kesadaran situasional, gereja berisiko berbicara keras tentang hal-hal yang jauh, tetapi gagal mendengar jeritan yang dekat.

Karena itu, semua pihak—pelayan, pemimpin, dan jemaat—diajak untuk kembali melihat, mendengar, memahami, dan merasakan denyut kehidupan bersama. Sebab hanya dengan demikian pelayanan tidak berubah menjadi menara gading, melainkan tetap menjadi “rumah bersama,” tempat di mana setiap orang menemukan pengharapan, perhatian, dan kasih yang nyata.

Tegasnya, pertobatan terbesar seorang pelayan bukan ketika ia menemukan jawaban yang benar, melainkan ketika ia cukup rendah hati untuk menyadari bahwa ia belum sungguh-sungguh mendengar kegelisahan yang dihadapi umat. Saya teringat dua ayat hafalan masa Sekolah Minggu tentang mendengar: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yakobus 1:19), dan “Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Markus 4:9).

Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa salah satu kelemahan terbesar dalam pelayanan bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan kurangnya kemampuan untuk mendengar.


#Ditulis: Ruben Rewasan. Beberapa sumber ahli dikutip dari catatan kuliah oleh Pdt. Rufus Waney, berupa Bahan Ajar yang referensi aslinya tidak terdokumentasi. Tulisan dan foto asli dokumentasi pribadi telah disunting melalui bantuan AI, tanggal 30 Agustus 2026.
#Keterangan Foto: TOT Channel Of Hope WVI, di Pirime – Tiom Tahun 2010.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan